Langsung ke konten utama

Kisah Sebutir Apel


Pagi ini,

aku mendengarkan satu kisah yang sungguh menakjubkan.

Kisah tentang sebuah apel.

Apakah engkau ingin mendengarnya, Kawan?
***

Hari itu,

Beberapa orang murid bersepakat dengan Sang Syekh.

Sepakat untuk mengkaji Kitab “Qawa’id Ibn Rajab”.

Sebuah kita yang tak mudah.

Engkau butuhkan kesabaran tak pupus untuk “mengunyahnya”.

Tapi,

para murid itu telah bersepakat.

Dan majlis itupun dimulailah…

Semajlis pertama, sepenuh jiwa mereka hadir.

Tapi kitab itu –sekali lagi- tak mudah, bukan?

Maka…

Semajlis kedua, semangat pun memudar.

Jumlah yang hadir berkurang.

Semajlis ketiga, dan majlis-majlis berikutnya

para hadirin semakin berkurang jua.

Hingga akhirnya di majlis-majlis yang tersisa,

hanya Sang Syekh dan seorang muridnya sahaja

yang sepenuh hasrat jiwa bermajlis berdua

hingga Kitab yang tak mudah itu dikhatamkan lembarannya.

Di ujung majlis itu,

Sang Syekh rupanya menyembunyikan hadiah cinta

untuk Sang Murid yang bersabar jiwa hingga di akhir majlis.

Dikeluarkanlah hadiah cinta itu dari kantong bajunya.

Sebutir buah apel.

Sang Murid kinasih itu sungguh takjub.

Untuk pertama kali dalam hayatnya,

ia saksikan buah sedemikian itu.

“Buah apa itu, Tuan Guru?” tanyanya.

“Ini buah apel, Anakku…” jawab Syekh.

“Hmm, bagaimana cara memakannya, Guru?

Direbuskah? Atau Diapakan?”

“Tidak, Anakku…Potong-potonglah, lalu makanlah,” jawab Sang Syekh.

Sang Murid budiman itupun pulang.

Dipanggilnya sang istri terkasih.

Sebutir apel cinta itupun dipotong-potongnya,

dan sepenuh cinta mereka menikmati

potongan-potongan apel itu.
***
Apa yang aku takjubkan dari kisah itu?

Keteguhan sang murid meski sendiri.

Tapi lebih dari itu,

Kesabaran sang guru hingga ke ujung majlis,

meski majlisnya sepi belaka tanpa gempita.

Ah, sudikah kita menghantar ilmu,

jika majlis kita senyap belaka?

Tiada keriuhan.

Dimana hanya engkau dan seorang murid,

berjanji berdua menyelami keberkahan ilmu.
***
Oh iya, aku hampir lupa…
Sang Syekh itu adalah Syekh Abdurrahman al-Sa’di.

Dan Sang Murid itu adalah Syekh Muhammad al-‘Utsaimin.

Yah, kisah sebutir apel ini adalah kisah mereka berdua.

Semoga Allah merahmati mereka…
(Kisah ini dituturkan oleh Syekh Abdurrazzaq al-‘Abbad)


Akhukum,

Muhammad Ihsan Zainuddin

NB:
Jangan lupa gabung di Telegram saya:
https://t.me/IhsanZainuddin

Jangan lupa berkunjung ke sini:

https://KuliahIslamOnline.com



==============
Oh iya, hampir lupa…
Ada juga KULIAH ONLINE GRATIS
mengkaji Kitab Hadits Arba’in Nawawiyah.
Infonya cek di sini:
http://ihsanzainuddin.com/kuliah-hadits-arbain-nawawi-gratis/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAMBIL HIKMAH (Part 2 "Hadiah Istimewa Untuk Bunda Hebat)

  HADIAH ISTIMEWA UNTUK BUNDA HEBAT Hadiah untuk para ibu yang diuji dengan kesehatan anak Penulis: UmA 2. Mengambil Hikmah Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, mungkin agar kita lebih dewasa, atau seringkali agar kita sadar dan kembali meniti jalan kebenaran. Atau terkadang melalui kejadian tersebut, ada pembelajaran istimewa yang Allah ingin hadirkan dalam kehidupan. Itulah yang terjadi saat ujian demi ujian seolah bertumpuk-tumpuk memenuhi tenggorokan. Bunda, cobalah untuk terus berprasangka baik kepada Sang Pencipta. Itulah langkah awal untuk mendidik jiwa ketika musibah menyapa. Sebab prasangka baik akan bernilai pahala dan membuahkan kebahagiaan serta kebaikan. Sebaliknya, berprasangka buruk dan mencela takdir-Nya hanya akan menyisakan kesempitan serta membawa diri dalam jurang keputusasaan. Buruk sangka hanya akan membuat hidup ke depannya lebih sulit, masalah lain pun akan bermunculan. Sungguh, itu terjadi. Mungkin, terus menjaga prasangka baik itu berat, tapi teruslah m...

BUNDA, JANGAN BERSENDIRIAN (PART 11 "Hadiah Istimewa Untuk Bunda Hebat")

  BUNDA, JANGAN BERSENDIRIAN Bunda, jangan merasa sendiri. Tentu karena memang kita tak pernah sendirian, sebab Allah ta’ala Maha Melihat dan Mengawasi kita. “Dan Allah bersama kamu (dengan ilmu-Nya) di mana saja kamu berada.” [QS. Al-Hadid: 4] Kemudian, Bunda, apa yang Bunda alami bukan hanya Bunda satu-satunya. Berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen (Kemensos). Entah itu dari sisi intelektual, mental, sensorik, dan ganda/multi. Selain itu, Ketua Pusat Layanan Penyakit Langka di  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo  atau RSCM, Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif Sp.A(K) menyebut diperkirakan ada 10 persen dari total penduduk atau sekitar 25 juta orang yang menderita penyakit langka di Indonesia. Bukankah angka yang cukup fantastis? Maka kuatkanlah hatimu, Bunda! Dan siapkan diri untuk mencari informasi dan komunitas. Minimal kita bisa mendapatkan ilmu tentang penanganan ...

Bukan Mengejar Angan

  Untukmu yang merindukan kebaikan Yang siang malamnya berharap dipenuhi kebahagiaan Untukmu yang jiwanya merindukan keberkahan Di setiap hela nafas hingga ke-semu-an pamit pulang Kadang engkau mungkin merasa, bahwa bahagia hanyalah dongeng yang takkan jadi nyata bahwa bahagia hanya untuk mereka yang punya segala kemewahan atau bahkan, bahagia hanyalah sandiwara yang dipaksakan Tetapi kawan.. Bahagia bukanlah fatamorgana Bahagia adalah kenyataan bagi mereka yang mau berjuang untuknya Ia akan memenuhi hati saat musuhnya terusir pergi Bahagia yang tak kenal waktu, usia, atau tempat Setiap saat ia ada.. hingga waktunya berpisah dari dunia Satu hal yang perlu engkau camkan, Bahagia itu punya harga mahal.. Tetapi bukan dengan rupiah, dollar, emas, perak, atau perhiasan lainnya Maukah engkau mengetahuinya? Bahagia itu bernama 'ihsan', yang datang bersama islam dan iman Bahagia itu ialah saat engkau selalu merasa dekat dengan Robbul Ízzah Bahagia itu saat engkau tahu bahwa Dia ázza wa...